Pagelaran Wayang : Wayangan di Tengah Boyong

0 37

Merti kali cara masyarakat lokal menghargai lingkungan sekitar khususnya sungai. Dengan bersyukur kepada Tuhan sebagai pemilik alam. Sekaligus mengingatkan kepada sesama penghuni bumi untuk saling menjaga lingkungan sungai. Lewat sebuah tradisi yang sarat dengan ritual. Bukan sekedar arak-arakan keliling kampung, berdoa bersama, makan bersama, dan berkesenian yang dimainkan anak-anak, remaja sampai orang tua. Namun sekaligus event reflektif bagi semua yang digaungkan oleh warga desa Glondong, Purwobinangun, Pakem, Sleman, DIY.

Dalang duduk di panggung yang terbuat dari tumpukan kerikil dan batu tepat di tengah sungai Boyong. Mulai memainkan perannya sebagai pengatur lakon pertunjukkan. Siang itu awan seolah bersahabat dengan warga desa Glondong. Memayungi kawasan dusun Glondong, Pakem, Sleman dari teriknya sinar matahari. Musik tradisional seperti karawitan dan modern seperti gitar serta flute berpadu dalan sebuah nada dan irama sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang menarik.

Sekaligus simbol perbedaan itu bukan pertentangan tapi saling mengisi. Dengan kepiawaiannya dalang memainkan wayang, serta mengarahkan para penari, buto atau raksasa, punokawan untuk memainkan perannya masing-masing. Penari dibawakan anak-anak, simbol dimana sungai Boyong adalah tenpat bermain bagi anak-anak sekitar desa Glondong. Dari jalan-jalan sampai mencari ikan cethulatau sekedar duduk-duduk di batu besar bersama teman-teman melihat gunung Merapi di sebelah Utara desa.

Source kompasiana.com kompasiana.com/koin1903/598fd8a69178b20a2971aca2/merti-kali-boyong-2-wayangan-di-tengah-sungai
Comments
Loading...