Pameran Wayang : Pameran Solo Sohieb Toyaroja

0 142

Tema pameran solo Sohieb Toyaroja adalah manusia yang mematut ke dalam dirinya: Ke-Diri. Sosok Semar kemudian menjadi rujukan penting, bagaimana seseorang harus mencari kesejatian, dalam kosmologi besar maupun kecil. Semar adalah tauladan ideal sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai illahiah. Semar dalam pandangan yang sama disebut Gusti Allah yang Katon, Tuhan yang terlihat atau manusia adikodrati. Dalam beberapa peradaban dunia konsep seperti ini disebut Ubermanch (Jerman), dan kita mengenalnya di keyakinan Islam dengan konsep Insan Kamil.

Pameran Solo Pelukis Sohieb Toyaroja dengan demikian mengeksplorasi sosok manusia unggul berjuluk Semar. Perwujudan dari Dewata Ismaya dalam diongeng Mahabharata versi Jawa (bukan India) yang menjadi penasihat anak-anak Prabu Pandu; Pandawa. Semar menjadi abdi sekaligus penasihat keluarga Pandawa. Kemudian muncul pertanyaan, kenapa justru kebaikan wajib didampingi, dinasihati? Bukankah keluarga Kurawa yang jelas-jelas wakil dari si angkara murka?

Konsep Jawa yang unik memberi pesan, justru yang menampak baik seringkali lebih sulit diraba. Kejahatan yang telanjang jelas-jelas terlihat. Acapkali kejahatan menyaru dalam kebaikan, Semar hadir mengingatkan. Sohieb mempresentasikan berbagai ajaran Semar dengan membawanya dalam konteks kekinian dalam tujuh lukisan-lukisannya. Yang menarik Sohieb tak harus menarasikan Semar-Semar hari ini yang sakral, merenung, dan sublim. Semar dihadirkan dengan cara yang bahkan kontradiktif dan saling bertolak belakang dalam pemahaman benar-salah.

Source jayakartanews.com jayakartanews.com/tujuh-kebijakan-semar
Comments
Loading...