Pengrajin Wayang : Mbah Atmo Karyo (Mbah Gembloh)

0 223

Mbah Atmo Karyo atau biasa disebut Mbah Glemboh, Lurah (kepala desa) Dusun Pucung pada tahun 1917, sebelum Pucung berubah nama menjadi Du­sun Karangasem. Pada zaman dulu, untuk menjadi seorang lurah harus mendapatkan pelatihan dari panewon (ke­camatan). Panewon memiliki hubu­ngan langsung dengan Keraton. Pelatihan­nya pun dibina langsung oleh Sultan. Pada masa itu, Sultan yang bertahta adalah Hamengkubuwono VII. Secara tidak langsung, Mbah Glemboh pun men­jadi abdi dalem Keraton.

Karena kedekatannya dengan Sultan, Mbah Glemboh kemudian diberi tugas untuk merawat dan menjaga wayang keraton. Kemudian pada tahun 1918, Mbah Glemboh tertarik membuat wayang sendiri. Dirumahnya, Ia belajar menatah wayang, dibantu oleh empat orang tetangganya yaitu Mbah Reso Mbulu, Mbah Cermo, Mbah Karyo, dan Mbah Sumo. Awalnya, wayang kulit buatan Mbah Glemboh hendak dibawa ke keraton, untuk diperlihatkan kepada Sultan.

Namun ditengah perjalanan, Be­landa melihat hasil karya tersebut lalu membeli semuanya. Ternyata tidak hanya Belanda yang tertarik, pemilik salah satu toko batik terkenal yang kebetulan melihat, membawa wayang itu, kemudian membeli dan memajang wayang Mbah Glemboh ditoko batiknya. Hingga tahun 1930, Mbah Glemboh masih membuat wayang bersama keempat temannya beserta anak-anak mereka. Kemudian pada tahun 1970, PT Sarinah (perusahaan BUMN di Jakarta) datang ke Yogyakarta dan tertarik dengan wayang kulit hasil karya warga Pucung. Lama kelamaan, laris.

Source krjogja.com krjogja.com/web/news/read/36484/Ini_Dia_5_Fakta_Unik_Sentra_Wayang_Kulit_Pucung_Wukirsari
Comments
Loading...