Penulis Buku Wayang : Henri Supriyanto, Penulis dari Malang

0 52

Henri Supriyanto, penulis buku Wayang Topeng Malangan menyatakan bahwa

ada pola berfikir India, karena sastra yang dominan adalah sastra India. Jadi cerita Dewata, cerita pertapaan, kesaktian, kahyangan, lalu kematian itu menjadi muksa. Sehingga sebutan-sebutannya menjadi Bhatara Agung. Jadi itu peninggalan leluhur kita, sewaktu leluhur kita masih menganut agama Hindu Jawa, yang orientasinya masih India murni

Begitu dominannya sastra India waktu itu, Henri melihat bahwa, bahwa diakui dalam banyak hal, terutama kasusastraan Jawa waktu itu banyak menyerap dan membumikan nilai nilai India yang  integrated dengan Agama Hindu itu di tanah Jawa.

Jawa memang dalam banyak hal merupakan imaginary India, wayang itu cerita India

Pada zaman Kediri cerita cerita wayang seperti mahabarata diterjemahkan pada masa pujangga pujangga besar semasa kerajaan kediri. Akhirnya cerita wayang itu ditempel dicandi candi. Didalam adaptasi kisah kisah sastra India yang diceritakan diJawa ini dengan diserap dan masukkan dalam nilai kehidupan mereka. Sehingga segala sesuatu yang berasal dari India itu tak lagi dinamakan dengan sastra india akan tetapi sastra jawa. Kalau di India ada puncak evrest, disini ada puncak semeru, kalau disana ada Dewa Siwa yang menciptakan bumi dan langit dengan arah empat arah mata angin dan satu pusat, disini diterjemahkan menjadi kiblat papat limo pancer. Lalu peristiwa.

Source ngajibudaya.averroes.or.id ngajibudaya.averroes.or.id/topeng-malangan-simbol-pertarungan-berbagai-identitas
Comments
Loading...