Sastra Pedalangan : Ginem, Dialog Antar Para Tokoh

0 348

Ginem adalah dialog antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain dalam seni pertunjukkan wayang purwa Jawa. Ginem dalam pewayangan harus terucap jelas agar para penonton serta pendengar bisa mengerti dengan mudah dan memahaminya, sehingga pesan-pesan yang bersifat mendidik akan mudah diterima oleh masyarakat. Ginem dalam penyajian wayangnya diatur berdasarkan suara bilah gamelan, misalnya dalam kawasan waktu pathet Nem suara tokoh Kresna mengikuti laras pada bilah 2, dan apabila dalam lingkungan pathet Sanga mengikuti laras pada bilah 1, dalam pathet Manyura mengukuti laras pada bilah 2.

Suara tokoh Duryudana dalam pathet Nem mengikuti bilah 6, dalam pathet Sanga mengikuti bilah 1 dan dalam pathet Manyura mengikuti suara bilah 6. Sedangkan tokoh wayang lainnya bisa dilakukan dengan cara mendasar pada bentuk wayang (wanda). Secara structural, ginempun juga tersusun seperti pada janturan, yaitu terdiri dari bagian-bagian, yaitu Adangiyah, Pambuka, Isi, dan Wasana. Contoh ginem:

Kresna : Jagad dewa batara wayah batara jagad. Nganti sapandurat kalepyan yen den adhep para nayaka        myang Santana. (Adangiyah). Kulup Samba apa baya ora dadi guguping atinira ingsun piji aneng ngarsaningsun (Pambuka)

Samba : Kawula nuwun-nuwun sareng kula tampi dhawuh timbalan paduka, dhahat guguping manah, nalika wonten jawi kados sinamber gelap tuna, tinubruk ing mong tuna, upami uninga gebyaring caleret tuhu mboten uninga dhawahing gelap, raos.

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_10/Pedalangan_Jilid_1_Kelas_10_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...