Sastra Pedalangan : Janturan, Orasi Seorang Dalang

0 471

Pada hakekatnya Janturan itu sebuah orasi seorang dalang yang ingin menjelaskan tentang apa yang disajikan pada pakelirannya. Kebanyakan janturan yang berlaku pada pertunjukkan wayang berupa kalimat-kalimat indah (basa rinengga) diucapkan secara gancaran dan lesan. Isinya janturan menceritakan dan mengupas situasi dan kondisi suatu Negara. Namun sebagaimana umumnya yang berlaku pada pewayangan jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Barat maupun Jawa Timur dan Bali, orasi ini berwujud Jejer suatu Negara / kerajaan, pertapaan, rumah panakawan.

Janturan yang berisi panyandra (menggambarkan) dan menceritakan bagaimana suasana suatu Negara / pertapaan, rumah. Biasanya diambil dari hal-hal yang baik-baik saja, kecuali Jejer Astina atau di tempat raksasa. Dalam adegan Jejer, apabila masih dalam kondisi pathet Nem (Solo, Yogya, Banyumas) suara dalang saat berorasi harus berada pada bilah 2 atau 6. Kata-kata / kalimat-kalimat yang rangkaiannya berupa gaya bahasa indah (Basa rinengga) tersusun dengan memilih kata yang sudah berdasanama (sinonim) sehingga membentuk menjadi basa pedalangan.

Jejer di dalam wayangan semalam suntuk terjadi minimal 3 kali, dan bisa sampai 5 atau 6 kali, yaitu jejer I, pada awal dimulai pertunjukkan kira-kira pukul 21.00. Kemudian jejer II terjadi sesudah “Budhalan” prajurit dengan naik kuda, kira-kira pukul 23.00. selanjutnya jejer ke III terjadi sesudah ada tanda peralihan waktu dari wilayah  pathet Nem masuk ke dalam wilayah pathet Sanga.

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_10/Pedalangan_Jilid_1_Kelas_10_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...