Sastra Pedalangan : Kitab Bharatayuda (Saduran Baru)

0 190

Kitab ini jelas menyadur dari Kitab Bharatayuda yang lama. Disadur oleh Kiai Yasadipura jaman kerajaan Surakarta Islam. Tentu saja banyak hal yang disanggit untuk disesuaikan dengan pemikiran dan penalaran yang diperbarui oleh pengarangnya, dan yang pasti unsur ke-Islam-an tentu mendasarinya. Namanya saja menyadur, tentu ada hal-hal yang berbeda atau bahkan dibedakan sebab kondisi maupun situasi alaminya sudah mengalami pergeseran. Namun demikian banyak para ahli sastra yang mencela atau menyalahkan.

Ki Yasadipura pun dalam penyaduran Bhratayudanya dianggap hanya meraba-raba tidak mengerti Bharatayuda aslinya secara mendalam. Kritikan Purbocaroko yang dianggap meraba-raba itu misalnya begini : Di dalam Kitab Kawi bagian 10 bait yang ke-6 berbunyi,

Kunang tawuri sang nrepang Kuru ya kari lud brahmana, rikan sira sinapa sang dwija sagotra matya laga

Artinya,

Adapun tawur (tumbal atau korban) sang Duryudana adalah seorang brahmana (dengan cara dibunuh), menyusullah (tawur Pandawa), oleh sebab itu dikutuknyalah sang Duryudana oleh sang Brahmana itu, bahwa ia akan mati dalam peperangan bersama wangsanya

Ada lagi yang dianggap meraba-raba atau kurang pas, bagian ke-12 bait ke- 5 yang kalimatnya berbunyi:

…prabu ing Ngastina, tawurira pandita Sagotra nak putuneki apan kinarya tawur Ngastina neggih

Terjemahan: ….

Prabu di Hastina, tawur atau korbannya pandita, Sagotra beserta anak cucunya memang sungguh-sungguh dibuat tawur (korban) oleh Hastina

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_10/Pedalangan_Jilid_1_Kelas_10_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...