Sastra Pedalangan : Murwa, Istilah Pedalangan Sunda

0 274
Murwa adalah istilah yang dipergunakan dalam dunia pedalangan Sunda. Asal katanya dari purwa, artinya sama dengan mimiti (Sunda) atau pertama, permulaan. Itulah arti yang dimaksud dengan istilah tersebut jika merujuk pada awal dimulainya pertunjukan wayang golek. Murwa, menurut kebiasaan dalam wayang golek, biasanya hanya dilakukan untuk pertunjukan wayang pada malam hari. Bentuknya berupa sebuah “nyanyian” yang dilantunkan oleh dalang sebagai pembuka pertunjukan sebelum lakon dimulai.
Murwa dilantunkan setelah beberapa tokoh wayang ditampilkan pada jejer pertama, yakni setelah lagu  kawitan kendor dinaikkan ke lagu kawitan gancang. Di ujung lagu kawitan gancang itulah biasanya baris pertama murwa mulai dilantunkan, yakni menjelang gong pada nada galimer atau bem (4=ti). Akan tetapi, murwa tidak hanya dalam lagu kawitan, melainkan juga bisa dalam lagu Bendra, Sungsang, Gorompol, Renggong Bandung, dan sebagainya. Di dalam lantunan baris-baris murwa, beberapa di antaranya seringkali diselingi dengan alok.
Sedangkan untuk hal-hal tertentu, misalnya beberapa kata yang perlu penjelasan, maka sebagian di antara nayaga biasanya menanyakan (ngengklokan) kata-kata tertentu itu dan dalang menjelaskannya. Bagian ini dalam pedalangan Sunda disebut dengan guneman. Bahasa yang dipergunakan biasanya campuran antara bahasa Sunda, Jawa (Cirebon), dan Kawi. Di Jawa Timur, sejenis murwa disebut ilahengan dan di Jawa Tengah disebut pelungan. Murwa wayang golek gaya dalang.
Source disparbud.jabarprov.go.id disparbud.jabarprov.go.id/wisata/ensiklo-det.php?id=58&lang=id
Comments
Loading...