Sastra Pedalangan : Sena Gelung, Cerita Wayang

0 164

Sena Gelung sebuah cerita wayang Jawatimuran petikan dari lakon Ramayekti versi Jawatimuran. Lakon Sena Gelung belum pernah terbukukan. Judul Sena Gelung-pun hampir-hampir belum banyak yang mengetahui. Hanya beberapa dalang saja yang pernah menampilkan. Mereka tahu dan mengerti apa maksud dan tujuan lakon itu ditampilkan. Atas persetujuan ki Dalang Suleman, seorang dalang senior dari Gempol, Pasuruan, Jawa Timur dan didukung oleh para dalang yang lain, lakon Sena Gelung ini disusun dalam pakeliran singkat oleh Djumiran RA.

Lakon ini dipentaskan pertama kali oleh ki Dalang Suleman dengan waktu 3 jam, tahun 1995 di kota Malang. Lakon ini terjadi setelah Bratasena selesai membabat hutan Samartalaya. Sementara belum mampu membuat besar, maka mereka para Pandawa hanya membuat rumah seadanya, dengan diberi nama Pondhok Waluh (rumah janda). Di luar Pondhok Waluh agak jauh, Bratasena yang juga bernama Pujasena (Wijasena) sedang duduk di atas batu sambil melamun dengan banyak pertanyaan. Aku ini bernama Sena, padahal Sena berarti prajurit. Prajurit kan harus sakti. Benarkah aku ini sakti.

Hm… kalau begini, aku jadi ingat pesan Abiyasa kakekku

“Ketahuilah cucuku Sena, kamu besok akan menjadi orang kuat, kamu suka menolong, kamu akan menjadi sentosa dan kuat. Bersihkan dirimu, sisirlah rambutmu yang gimbal itu dengan Jongkat – Penatas, carilah !”.

Dimana aku harus mencari?

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_10/Pedalangan_Jilid_1_Kelas_10_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...