Sastra Pedalangan : Suluk, Sama Puisi atau Sajak

0 256

Suluk pedhalangan dapat dipersamakan dengan puisi atau sajak. Kata-kata yang halus dan indah, dirangkai dengan persamaan, kemiripan pada suku-suku kata, ataupun persamaan vocal dan diucapkan dengan cara dilagukan. Suluk berasal dari kata “su = indah, baik, lebih, utama”, dan “luk = lekuk, suara”, maka suluk bisa diartikan sebagai : “suara yang indah”, karena menyuarakan syair (tembang, sekar) dengan nada yang berlekuk, dengan nada yang begitu rendah namun kemudian meninggi dan sebaliknya. Suluk yang berbahasa Jawa Kuno pada umumnya diambil dari Kakawin Bharatayudha, karya Empu Sedah dan Empu Panuluh di jaman Prabu Jayabaya (Kediri), dan ada juga yang diambil dari Kakawin Ramayana.

Karenanya ada yang mengartikan suluk sebagai “puji”, mengingat seloka dalam kakawin bersifat doa, puja dan pujian. Suluk dipergunakan untuk memberi penggambaran suasana sebuah adegan, atau saat pergantian dari sebuah pathêt (dapat diartikan sebagai : babak, bab).

Menurut penggunaannya suluk terbagi menjadi :
1. Pathêtan, digunakan pada suasana yang tenang, damai.
2. Sendon, digunakan pada suasana sedih, trenyuh, haru.
3. Ada-ada, digunakan pada suasana ramai, menakutkan.
4. Grêgêt Saut, digunakan pada saat terkejut, marah.

 
Meski ada beberapa gagrag pagelaran ringgit wacucal (gaya pementasan wayang kulit), yaitu gaya Surakarta (Solo), gaya Yogya, gaya Banyumas dan gaya Jawa Timur, yang dapat dibedakan dari caturan (bahasa), sabet (gerakan wayang oleh Dhalang), karawitan.

Source yogahart.wordpress.com yogahart.wordpress.com/2013/05/01/suluk-suluk-pedhalangan-bag-01
Comments
Loading...