Sena Wangi : Polah Seperti Dasamuka (Brubuh Alengka)

0 190

Dalam keputus-asaan, pak Setya Novanto Polah, karena ruang gerak untuk bebas sudah rahip. Dari politik diare atau mencrèt-mencrèt, sampai drama tapa mbisu atau tutup mulut bukanlah usaha ulur waktu agar praperadilan mengabulkan gugatannya. Bukankah perkaranya akan gugur dengan sendirinya bila Pengadilan Tipikor digelar? Saya berpendapat bahwa apa yang dilakukan hanyalah Polah untuk merepotkan Jaksa Penuntut Umum, KPK, dan kalau perlu Hakim Tipikor yang dianggap merugikan dirinya.

Hal serupa dia lakukan pada DPR dan Partai Golkar. Tanpa prosedur yang wajar dan benar, dia menunjuk Aziz Syamsuddin menggantikan dirinya menjadi Ketua DPR. Pengamat bilang, jabatan Ketua DPR kok seperti hak waris? Bahwa DPR menjadi bingung ya nggak apa-apa-lah, wong virus politik bingung sedang berjangkit. Tapi dengan adanya surat penunjukan itu, Partai Golkar benar-benar dibikin repot, karena pada awalnya pak JK dan bung Ical berselisih paham.

Saya menduga, pak Setnov sudah sampai pada tataran, kalau aku harus menderita, mengapa harus sendirian? Kalau perlu ti-ji ti-bèh, mati siji mati kabèh Polah seperti itu juga dilakukan Dasamuka pada saat-saat terakhir perlawanannya atas Rama Regawa, dalam cerita Brubuh Alengka. Segera setelah dia terima laporan Togog dan mBilung, bahwa anak lanang benteng terakhir Alengka, Indrajid gugur ditangan adiknya sendiri, Gunawan Wibisana, dia berteriak: “Bumi angus. Dasamuka ora.

Source senawangi.com senawangi.com/polah
Comments
Loading...