Sinden Wayang : Galuh Sri Setiani, Sinden Remaja Malang

0 222

Menjadi sinden sekaligus penyanyi dangdut atau campursari juga banyak dilakoni sinden remaja di Malang, Jatim. Menurut Galuh Sri Setiani (17), siswi kelas II SMAN 1 Gondanglegi, Kabupaten Malang, hal itu terjadi karena sinden zaman sekarang beda dengan zaman dulu.

Oleh karena pasar. Penonton tidak hanya menyukai gending tempo dulu, tetapi juga lagu baru. Saya kurang suka campursari. Lebih suka yang klasik

kata Galuh, yang setiap Jumat malam mengisi acara uyon-uyon langgam Jawa di Rumah Makan Inggil, Klojen, Kota Malang. Isma, Dinny, Chandra, Figi, dan Galuh adalah potret kecil anak-anak muda yang menggeluti seni tradisi. Mereka mekar dengan berbagai tantangan. Di Malang, yang kini memiliki sekitar 30 sinden, mulai dari remaja hingga dewasa, terjadi regenerasi sinden meski, menurut Ketua Paguyuban Dalang dan Karawitan Nunggal Rasa (Padakanusa) Nanang Pramudya, dari tahun ke tahun pertunjukan wayang berkurang.

Jika tahun 1980-an seorang dalang bisa pentas hingga 15 kali dalam satu bulan, saat ini dalam 2-6 bulan dalang hanya pentas satu kali. Menurut Nanang, kondisi zaman membuat pola, kemasan, dan konsep main sinden harus berubah. Namun, sebagian orang kadang masih terkungkung pola pikir lama bahwa gaya dan penampilan sinden tidak boleh berubah.

Padahal, masyarakat berubah

katanya. Hal serupa diungkapkan guru karawitan SMKN 3 Banyumas, Tatang Hartono. Menurut dia, minat memang minim.

Source Press Reader pressreader.com/indonesia/kompas/20180121/281513636570914
Comments
Loading...