Tata Iringan Pedalangan : Jejer Pathet Wolu, Gara-gara

0 238

Jejer Pathet Wolu adalah adegan jejeran yang di laksanakan setelah jejer Pathet Sepuluh atau jejer wiwitan, dan lazim di sebut jejer pindho. Perubahan Pathet pada pakeliran Jawatimuran tidak di dahuli oleh bentuk Pathetan seperti pada pakeliran gaya Jawatengahan (Surakarta) di setiap perubahan adegan. Perubahan Pathet pada pakeliran gaya Jawatimuran di tandai oleh perubahan garap ricikan saron/pancer kembangan saronan dan vokal kombangan yang di laksanakan oleh dalang.

Di dalam jejer Pathet Wolu atau jejer pindho biasanya langsung di lanjutkan adegan gara-gara bersama tokoh Semar, Bagong, dan Besut. Pada adegan gara-gara ini suasana pakeliran diubah menjadi lebih rileks atau santai, karena adegan ini dibuat lucu, penuh canda tawa untuk mengendurkan dan menyegarkan suasana yang tegang dampak dari bagian alur ceritera yang telah berlangsung sebelumnya. Di samping itu juga berfungsi untuk menarik minat dan menghibur penonton agar tidak jenuh.

Bahkan dalam membuat kejutan ki dalang tak jarang memberi kesempatan kepada para penonton untuk berpartisipasi dan bersama-sama menyanyi atau melantunkan tembang dengan waranggana pilihannya. Adapun gending-gendingnya bersifat bebas, tergantung selera penonton dan kemampuan pengrawit yang mengiringinya. Gending yang dibunyikan tidak hanya terbatas gending-gending Jawatimuran saja, tetapi juga gending-gending daerah lain. Misalnya Sekar Dhandhanggula, Sinom, Pangkur, Asmaradana, Banyuwangian, Banyumasan, dan lagu-lagu Campursari yang sedang populer.

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_11/Pedalangan_Jilid_2_Kelas_11_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...