Tata Iringan Pedalangan : Pathet, Unsur Penting Gending

0 162

Salah satu unsur penting dalam garap gending yang ada pada pakeliran adalah Pathet. Dalam sajian pedalangan merupakan penunjuk pembagian waktu serta dinamika garap bagi seorang dalang ketika menggelar pakelirannya semalam suntuk maupun pakeliran padat. Sekarang di jaman tehnologi aturan pathet mengalami pergeseran waktu, bahwa dimulai sesudah shalat Isak dan diakhiri sebelum shalat subuh. Dalam waktu semalam untuk pathet bisa dibagi menjadi:

Surakarta/Yogja, Banyumas
Pathet Manyura jam 18.00-21.00
Pathet Nem jam 21.00-24.00
Pathet Sanga jam 24.00-03.00
Pathet Manyura jam 03.00-06.00

Jawatimuran
Pathet Sepuluh jam 18.00-21.00
Pathet Wolu jam 21.00-02.00
Pathet Sanga jam 02.00-04.00
Pathet Serang jam 04.00-05.00

Dalam pementasan pekeliran semalam suntuk pedalangan gaya Jawatimuran, penggunaan Pathet secara garis besar dikelompokkan menjadi empat bagian. Yakni Pathet Sepuluh digunakan dan dilaksanakan menjelang Jejer Wiwitan dalam penyajian gending Ayak Sepuluh (Ayak Talu dengan dua versi) sampai pada awal pertunjukan atau bagian adegan pertama (jejer wiwitan/adegan panggungan), yaitu dalam gending Gandakusuma Laras Slendro Pathet Sepuluh kemudian dilanjutkan Sendhon Prabatilarsa.

Setelah penyajian gending-gending dan sulukan dalang tersebut di atas kemudian suasana diubah menjadi Pathet Wolu di mulai dari sajian gending Gedhog Tamu dan/ atau Krucilan Laras Slendro Pathet Wolu. Suasana Pathet Wolu ini berakhir pada setelah adegan Gara-gara (adegan Karang Klethak yang terdiri dari tokoh-tokoh Semar, Bagong, dan Besut. Surakarta ditandai dengan panakawan.

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_11/Pedalangan_Jilid_2_Kelas_11_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...