Tata Panggung Wayang : Belincong atau Blencong

0 801

Pada masa lalu pertunjukan wayang kulit yang dilakukan malam hari hanya diterangi dengan Belincong/Blencong. Yaitu sebuah lampu berbahan bakar minyak kelapa dan sumbunya mengarah ke kelir. Belincong/Blencong pada seni pedalangan merupakan lambang cahaya abadi yang dalam hal ini bermakna Tuhan Yang Maha Esa. Jika lampu tersebut padam atau tidak ada maka seluruh ruangan pertunjukan wayang kulit menjadi gelap gulita, tidak ada aktivitas kehidupan.

Seiring dengan perkembangan jaman, fungsi dan makna dari Belincong/Blencong telah bergeser. Fungsi Belincong/Blencong sebagai penerangan pertunjukan wayang telah digantikan oleh perangkat lampu bertenaga listrik yang lebih modern dan bervariatif tidak hanya cahaya netral (terang) saja yang ditampilkan. Untuk mendukung suasana-suasana tertentu dalam suatu adegan digunakan pula tata lampu yang disesuaikan dengan suasana adegan.

Misalnya dalam adegan sereng atau marah akan didukung dengan tata lampu yang menampilkan warna merah, pada saat adegan dalam hutan kekuatan cahaya akan dikurangi (diatur dengan dimmer) sehingga yang muncul adalah cahaya remang-remang seperti suasana di dalam hutan, dan sebagainya.

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_11/Pedalangan_Jilid_2_Kelas_11_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...