Wayang Indonesia : Dwi Woro Retno Mastuti, Dosen

0 216

Dengan merendah, dosen Dwi Woro Retno Mastuti mengatakan, baru inilah yang dapat dilakukannya untuk melestarikan kebudayaan sekaligus menjaga toleransi.

Kebudayaan kita terlalu banyak, terlalu indah untuk dilupakan. Terlalu bagus untuk dirusak. Tidaklah, jangan sampai rusak

ujar Woro. Woro juga mengingatkan bahwa kebudayaan China pernah terkekang dan tidak banyak diketahui pada masa lalu. Berada di sanggar Cinwa membuat para mahasiswa mengetahui lebih banyak hal. Mereka diajak bergabung dengan komunitas wayang lain, keluar masuk kelenteng, keluar masuk mal sehingga kenal dengan banyak orang dari berbagai kalangan, hingga pergi ke Desa Gudo. Meilia Afkarina Pitaningrum atau Meimei, mahasiswa Sastra Jawa tahun keempat, mengatakan senang ikut dalam sanggar Cinwa.

Saya dapat kenal dengan berbagai komunitas, belajar kebudayaan lain, banyaklah pengalaman yang saya dapat

kata mahasiswa berkerudung ini. Dia berperan sebagai salah satu dalang dalam pertunjukan wayang potehi. Suaranya dapat berubah-ubah sesuai karakter yang dimainkan. Menurut Meimei, selain memahami jalan cerita, dirinya juga banyak berimprovisasi untuk memainkan lakon-lakon dalam wayang potehi tersebut. Sesekali celetukannya, khas anak muda milenial zaman now, menambah semarak pertunjukan. Wayang potehi jadi dapat dinikmati semua kalangan, bukan hanya orang-orang tua zaman old. Menjelang perayaan tahun baru Imlek, sanggar ini mendapat panggilan untuk pentas di mal. Bahkan, pada pekan ini, anggota sanggar.

Source kompas.id kompas.id/baca/utama/2018/02/16/keberagaman-dalam-wayang-potehi
Comments
Loading...