Wayang Indonesia : Dwi Woro Retno Mastuti M.Hum

0 222

Dwi Woro Retno Mastuti, dosen dan peneliti wayang potehi dari Jurusan Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menjelaskan, kini hanya ada dua desa pembuat wayang potehi, yakni di Kecamatan Gudo di Jombang dan di Kampung Pesantren, Purwodinatan, Semarang.

Para dalang di Gudo pun sudah sepuh

ujar Woro, ditemui awal Februari 2018. Woro mulai meneliti wayang potehi sejak 20 tahun silam. Selain meneliti dan menerbitkan beberapa buku tentang wayang potehi, Woro juga berupaya melestarikan pertunjukan wayang potehi. Namun, pelestarian wayang potehi bukan perkara mudah. Sejatinya, wayang potehi lebih banyak ditampilkan di kelenteng sebagai bagian dari ritual. Pertunjukan itu sebagai sarana untuk memanjatkan pujian bagi leluhur dan dewa.

Ambil contoh, setelah permohonan seseorang terkabul, biasanya dia menanggap pertunjukan wayang potehi di kelenteng. Durasi pertunjukan wayang potehi umumnya satu jam hingga dua jam. Pertunjukan wayang ini tidak hanya dilakukan satu hari atau dua hari. Pertunjukan di kelenteng dapat dilakukan hingga berhari-hari, bahkan sampai tiga bulan. Ada atau tidak ada penonton, pertunjukan wayang potehi di kelenteng tetap berjalan. Walaupun sering digelar di kelenteng, pertunjukan wayang potehi juga dapat dilakukan di luar kelenteng. Woro pun melestarikan wayang potehi dari luar kelenteng. Tidak hanya sekadar meneliti wayang potehi, sedikit demi sedikit, dia mulai mengumpulkan boneka-boneka wayang potehi.

Source kompas.id kompas.id/baca/utama/2018/02/16/keberagaman-dalam-wayang-potehi
Comments
Loading...