Wayang Indonesia : Ideologi Wayang pada Pilkada

0 49

Panggung politik pilkada 2018 Banyumas  yang hanya memunculkan dua paslon, yakni Marjoko-Ifan dan Husein-Dewo, dilukiskan oleh wartawan Muhammad Ridlo, sebagai Padang Kurusetra Dua Raksasa di Pilkada Banyumas 2018. Yang dimaksud dengan dua raksasa tentu bukan dalam pengertian fisik. Tetapi simbolisme dari dua kekuatan calon bupati dengan pendukung fanatiknya masing-masing yang nyaris seimbang. Mirip kekuatan Pandawa dan Kurawa yang terlibat dalam perang besar di Padang Kurusetra.

Dalam kisah wayang, perang antara Pandawa dan Kurawa terjadi karena  memperebutkan tahta Hastina. Pada akhir peperangan, terjadi bigmatch. Duryudhana harus perang tanding dengan Bima. Ternyata keduanya sama-sama sakti dan sama-sama terampil menggunakan senjata andalannya. Keduanya saling gebug dengan senjata gada. Bima nyaris putu asa, karena setiap kali Duryudana digebuk dengan gada sakti Bima, Duryudana selalu bisa bangkit lagi dan terus melawan. Untunglah suporter Bima, yakni punakawan Pandawa, memberi tahu Bima.

“Raden,”

“Pukul saja di pangkal paha kanan. Sebab, di situlah letak jalan kematian Destarata Putra!”

Mendengar bisikan Petruk, Bima kembali bangkit semangatnya. Sekali pukul, gada Rujakpolo Bima berarang di bawah pangkal paha kanan lawan, sehinggan membuat Duryudana pincang dan hilang kesaktiannya. Merasa ajalnya sudah dekat, Duryudana masih mencoba menyelamatkan diri dengan berusaha lari. Bima terus mengejarnya. 

Source kompasiana.com kompasiana.com/anklbrat/5a98f7baab12ae6e53685493/ideologi-wayang-dalam-pilkada-banyumas-2018
Comments
Loading...