Wayang Indonesia : ‘Pajak Tontonan’ Wayang Masa

0 47

Pada 1829 pajak untuk pagelaran wayang kulit sebesar 20 gulden. Namun jangan dibayangkan jika harga tersebut sama dengan harga tiket nonton ke bioskop zaman sekarang, 20 gulden pada masa itu sama harganya dengan 10 kuintal padi kering. Wayang yang pada masa kolonial menjadi salah satu hiburan pribumi, tidak lepas dari pengawasan pemerintah kolonial. Maklum para elit penguasa pada saat itu selalu

mengkomersilkan

segala sesuatu dengan alasan keamanan, di tambah lagi wayang mengundang banyak penonton. Meski pemerintah Belanda agaknya tidak banyak kepentingan akan pertunjukan wayang kulit, tetapi bukan berarti mereka lepas tangan begitu saja. Para sarjana Belanda yang khusus datang ke Nusantara melakukan peneitian mengenai wayang, adat-istiadat, sastra dan kebudayaan Indonesia, seperti : Pensen, Dr. Rassers, Dr. Brandes, Prof. Dr. Kern, J. Kats, dan masih banyak lagi.

Selain melakukan berbagai kajian dan penelitian ilmiah mengenai kekayaan kebudayaan Nusantara saat itu, pemerintah kolonial juga menerapkan pajak tontonan. Pada 1829 pajak untuk pagelaran wayang kulit sebesar 20 gulden. Namun jangan dibayangkan jika harga tersebut sama dengan harga tiket nonton ke bioskop zaman sekarang, 20 gulden pada masa itu sama harganya dengan 10 kuintal padi kering. Sehingga tidak heran jika hanya mereka dengan kekayaan melimpah yang bisa mengadakan pagelaran wayang

Source Kumparan kumparan.com/potongan-nostalgia/pajak-tontonan-wayang-masa-kolonial
Comments
Loading...