Wayang Indonesia : Pemuda Tertarik Buat Wayang

0 66

Generasi muda pun tertarik belajar membuat wayang. Sebab selama ini jumlah peminat wayang dan pembuatnya tidak imbang. Sekolah pedalangan terus meluluskan dalang. Penggemar wayang pun terus muncul. Namun, sebaliknya, pembuat wayang makin berkurang.

Kami ingin perajin mengajari anaknya supaya penatah ada generasi penerusnya. Mengajari anak kecil, seperti cucu saya itu, jangan berhenti dan harus telaten

kata Saiman. Nilai Ekonomi Pendapatan Melebihi UMR. Nah nilai ekonomi pembuatan wayang ini terbilang tinggi.

Secara ekonomi, hasilnya lumayan daripada UMR (upah minimum regional). Ekonomi tertinggal itu tergantung orangnya. Kalau kreatif, kebutuhan bisa dipenuhi

tukas Saiman. Namun, Pendi menjelaskan, ada beberapa hal yang membuat profesi perajin wayang ditinggalkan generasi ‘milenial’. Pertama, dianggap tidak memiliki prestise. Kedua, serbuan industri yang menawarkan pendapatan secara instan, seperti dialami Desa Sidowarno yang tak jauh dari kawasan industri dan jasa Solo Baru. Ketiga, ada pandangan orang tua yang khawatir, jika belajar membuat wayang anak-anak  mereka kehilangan masa kecil bahkan meninggalkan pendidikan.

Membuat wayang  harus ada investasi waktu

kata Pendi. Berbagai kekhawatiran ini ditepis oleh pengalaman keluarga Saiman sendiri. Ketiga anaknya yang belajar membuat wayang mampu menuntaskan kuliah. Pendi, yang menjadi penatah wayang termuda di desa itu, belajar membuat wayang sejak SMP saban pulang sekolah. Toh, meski kini jadi penatah wayang.

Source Gatra gatra.com/rubrik/budaya/seni/370783-Millenials-Penatah-Wayang-dari-Dukuh-Butuh
Comments
Loading...