Wayang Indonesia : Penantian, Wayang dan Hujan

0 54
Aku tak pernah membuat kesalahan fatal sejauh ini. Merasa tak kunjung mendapatkan jawaban, kutarik badanku kembali ke dalam rumah. Samar-sama tercium bau tanah tersiram percikan air. Hujan telah datang. Hmm… kunikmati sebentar bau hujan yang menyegarkan itu. Ada sensasi tersendiri saat menikmatinya. Bau hujan memang menyenangkan. Tak lama, hanya dalam hitungan menit percikan air yang semulaberupa rintikan kecil berubah deras. Aku memutuskan untuk melanjutkan ritual malamku.
Kulangkahkan kakiku ke belakang. Terlihat sosok pria paruh baya duduk di atas kursi rotan reot — yang harusnya terbuang — dengan televisi menyala di depannya. Keningku mengernyit sesaat mendapati tayangan yang meuncul di layar kaca. Bukan kupasan berita malam seperti yang biasa sosok itu tonton. Bahasa Jawa kental dan orang-orang berbaju ada Jawa lengkap. Tak lupa iringan musik gamelan yang mengiringinya. Ah, wayang.
Source kompasiana.com kompasiana.com/pecintahujan/5510dfe5a33311283bba8cc2/penantian-wayang-dan-hujan-tengah-malam
Comments
Loading...