Wayang Indonesia : Simpingan (Sumpingan), Wayang

0 314

Penataan wayang simpingan kecuali mempertimbangkann besar kecilnya ukuran serta pengelompokan wayang, juga memperhatikan bentuk keseimbangan. Seperti yang dikemukakan A.A.M. Djelatik, bahwa sudah menjadi sifat alami manusia dalam menempatkan dirinya terhadap alam sekitarnya atau lingkungan hidupnya yang menghendaki keseimbangan. Manusia lahir, belajar berdiri hingga berjalan membutuhkan keseimbangan. Rasa seimbang dirinya sendiri maupun seimbangn dengan lingkungannya sudah menjadi naluriah yang kekal dalam jiwa manusia.

Naluriah keseimbangan itu juga berpengaruh pada proses penciptaan karyaseni termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasa keseimbangan yang paling mudah dapat dicapai adalah simetri, seperti yang ada di Candi Bentar, Garuda Pancasila, daun-daun, bunga-bunga, kupu-kupu dll semua ada disekitar kita. Kehadiran rasa keseimbangan diperlukan karena akan memberikan rasa ketenangan. Begitu pula dalam wayang, contoh konsep keseimbangan itu ada pada wayang Gunungan atau kayon.

Penataan simpingan kanan dan kiri pada pergelaran wayang juga memiliki bobot keseimbangan yang sama. Menurut M. Sayid, bahwa dalam penataan wayang simpingan diperlukan keseimbangan yang dikemukakan sebagai berikut: Anyumping tegese saka tembung sumping, umpamane asemsumping sekar melathi, yaiku sepasang kembang mlathi klatlesepake ing kuping. Iya kudu milih kembang kang padha kanggo rerengganing kuping. Iku mau tegese tembung sumping, Gawe sesawangan kang katon timbang yen sinawang saka tengah-tengah. Semono uga nyumping wayang.

sumpingan kiwa & tengen kudu padha

Source wayang.wordpress.com wayang.wordpress.com/2010/03/06/simpingan-dan-makna-keseimbangan
Comments
Loading...