Wayang Indonesia : Upaya Pemain Wayang Langka

0 101

Upaya regenerasi pemain wayang langka tersebut. Kecuali menantu, menurut Mbah Saniyem, tidak seorang pun dari enam anaknya yang menguasai karawitan dan mampu memainkan wayang. Nasib wayang krucil memang tidak setenar wayang kulit yang lazim terdengar oleh masyarakat. Selama ini, wayang Mbah Saniyem hanya dipentaskan setahun sekali pada Hari Raya Ketupat atau sepekan setelah Idul Fitri (Gebyak Syawal). Pementasannya dilakukan di halaman rumahnya.

Namun, beberapa waktu lalu, wayang krucil mulai dipentaskan di luar batas desa, seperti pada hari ulang tahun Kabupaten Malang, acara kampus hingga acara museum. Cerita lokal. Selain dari sisi bahan yang menggunakan kayu pule, ada sejumlah perbedaan antara wayang krucil dan kulit. Tokoh wayang krucil banyak mengadopsi babad atau cerita lokal, seperti Ronggolawe, Angling Darmo, Damar Wulan, Ciung Wanoro, Anjasmoro, dan Minak Jinggo.

Begitu pula ceritanya lebih bernuansa lokal, seperti kisah Kerajaan Kediri, Singosari, perjalanan Walisongo, hingga perjuangan melawan penjajah. Bukan menampilkan kisah Ramayana atau Mahabharata seperti yang ada dalam wayang kulit. Adapun iringan gamelannya tidak berbeda jauh dengan wayang kulit gaya malangan meskipun pada awalnya hanya menggunakan lima jenis instrumen gamelan. Sejauh ini, tidak ada yang tahu pasti kapan dan siapa pembuat wayang krucil yang ada di tangan Mbah Saniyem. Menurut pihak desa, Mbah Saniyem mendapatkan wayang.

Source Kompas kompas.id/baca/nusantara/2017/03/11/semangat-baru-pelestarian-wayang-krucil-di-lereng-gunung-katu
Comments
Loading...