Wayang Indonesia : Wayang: Ajaran Moral Luhur?

0 37

Sering menemani Ibu nonton wayang orang di Sriwedari-Solo. Sebagai anak kecil saya tidak begitu paham alur cerita. Ibu yang memberi tahu ceritanya, dan menyebutkan tokoh-tokoh baik serta tokoh-tokoh jahatnya. Saya hanya senang kalau adegan perang, dan juga munculnya para Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong). Saat bercerita, Ibu senantiasa mengingatkan untuk mencontoh tokoh-tokoh Pandawa (yang lima orang

Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa

serta tokoh-tokoh di sekeliling mereka), yang diyakini sebagai tokoh baik. Para jagoan ini adalah pembela kebenaran, pembasmi para angkara, para penjahat. Sebagai anak yang baik (menurut Ibu, saya anak yang baik), saya mendengarkan dan mengiyakan. Ibu senantiasa berpesan, ada ajaran moral yang patut dipelajari dalam cerita wayang. Setelah dewasa, mulai membaca dari sumber-sumber yang bervariasi (kalau dulu hanya mendengar dari para dalang wayang kulit, dan mengikuti cerita saat menyaksikan wayang orang), maka saya menjadi ragu.

Ragu untuk mengikuti pendapat bahwa wayang dapat dijadikan sebagai sarana ajaran moral luhur. Mengapa? Dalam alur cerita wayang, penuh dengan adegan perang, bunuh-membunuh (bahkan dengan cara yang amat sadis), saling dendam, saling licik. Dari yang saya baca, perilaku sadis itu juga dilakukan oleh tokoh Pandawa (yang nota bene dianggap dapat dijadikan panutan perilaku luhur, begitu menurut para dalang wayang).

Source Kompas kompasiana.com/margono/54ff3da1a33311494c50f87e/wayang-ajaran-moral-luhur
Comments
Loading...