Wayang Indonesia : “Wayang” dan juga “Binatang”

0 155

Warga Indonesia semakin kritis karena adanya keterbukaan yang luas dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Kemudian dalam era Orde Lama banyak tanda-tanda zaman yang memberi makna pada nama tokoh pewayangan. Justru nama-nama yang ditujukan pada para elit diberikan rakyat dalam suasana humor yang menggelikan. Seperti nama pendita Durno ditujukan pada tokoh yang suka mengadu-domba. Demikian juga nama Sengkuni ditujukan pada nayaka yang culas dan menggunakan cara-cara yang bersifat ”tipu-menipu”, dimana karakter-karakter tersebut muncul saja di permukaan, tanpa ada yang mengomando.

Demikian juga di era Orde Baru banyak tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan karakter seni pewayangan. Yang lebih merusak citra justru di era reformasi, penggunaan karakter para pemimpin disamakan dengan ”binatang”. Hal tersebut muncul begitu saja dan disambar oleh mass-media dibumbui dengan yang lain-lainnya. Misalnya ketika muncul masalah yang berkait dengan Mafia Hukum  banyak tiba-tiba dengan cara ”ujug-ujug” karakter yang disamakan dengan ”Buaya” dan ”Cicak”.

Rupanya era tersebut agak panjang berlanjut, karena ada julukan tokoh ”kerbau” dalam suatu iring-iringan unjuk-rasa. Kali ini dalam era reformasi menyebut karakter tokoh dengan nama ”binatang” 100 persen berbeda dengan sebutan Binatang dikala era Majapahit. Ada lagi julukan yang dilansir oleh anggota terhormat DPR dengan istilah-istilah Binatang: Ikan Salmon, Ika teri, Ikan Piranha dan lain-lainnya. Cara-cara tersebut mengingatkan.

Source poskotanews.com poskotanews.com/2012/01/16/wayang-dan-binatang
Comments
Loading...