Wayang Indonesia : Wayang dan Tingkat Apresiasi

0 110

Karena alasan memasyarakatkan wayang, banyak orang termasuk para dalang terjebak dalam kekeliruan berpikir. Mereka mengira untuk mengatasi masalah tingkat apresiasi seseorang yang ditimbulkan oleh faktor bahasa cukup dengan menyederhanakan persoalan melalui proses pementasan dengan menggunakan bahasa asing termasuk wayang berbahasa Indonesia. Akhirnya sebagian besar pementasan wayang dengan menggunakan bahasa asing yang digelar oleh para dalang wayang (Jawa) menjadi kedodoran.

Pergelaran wayang menjadi kering, kehilangan roh, dan tidak menarik karena dialog yang disampaikan dalam bahasa asing itu menjadi pating pecotot. Tidak terbangun secara apik yang disebabkan oleh kesulitan para dalang dalam mentransformasikan bahasa asing itu sendiri. Kemudian muncul pertanyaan, apakah pementasan wayang tidak perlu menggunakan bahasa asing? Pertanyaan serupa pernah dilontarkan kepada Ki Manteb Soedharsono, dan dijawab, Sangat perlu.

Itu tantangan bagi dalang muda. Kalau saya dan seangkatan belum bisa mewujudkan, biarlah yang muda-muda mendalang dengan bahasa asing. Itu artinya Ki Manteb Soedharsono menyadari keterbatasannya untuk tidak perlu memaksakan diri. Alih-alih mendapatkan apresiasi yang obyektif dan proporsional, justru dapat menurunkan kualitas pertunjukan wayang. Karena wayang kulit memang mempunyai latar belakang filosofi kehidupan dan budaya tradisi Jawa yang tidak mudah diekspresikan dengan bahasa lain. Kita tidak bisa menampik Wayang Suket yang diusung oleh Slamet Gundono, dan wayang berbahasa Indonesia oleh Sujiwo Tejo.

Source nasional.kompas.com nasional.kompas.com/read/2008/05/08/1211032/wayang.dan.tingkat.apresiasi.kita
Comments
Loading...